welcome

Mencoba Menggapai Asa, aku yakin aku mampu,aku yakin aku bisa..

Minggu, 18 Desember 2011

makalah sejarah peradaban islam (kerajaan safawi)


KERAJAAN SAFAWI USAHA DAN KEMAJUAN KEBUDAYAAN YANG DICAPAI  DAN SEBAB-SEBAB JATUHNYA

I.         PENDAHULUAN
Safawi adalah salah satu dari ketiga kekhalifahan atau kerajaan Islam yang dikategorikan besar di dunia Islam pada abad pertengahan. Dua yang lainnya adalah kerajaan Usmani di Turki dan kerajaan Mughol di India. Kerajaan Safawi di sebelah barat berbatasan dengan kerajaan Usmani dan di sebelah Timur berbatasan dengan India yang pada waktu itu berada di bawah pemerintah kerajaan  Mughol. Kekhalifahan ini berpusat di Persia (Iran).
Nama Safawi berasal dari seorang pemimpin tarekat yang bernama Syekh Safiuddin Ardabeli (1252 – 1334 M) dari Ardabil, sebuah kota di Azerbaijan, Persia barat Laut. Nama Safawi terus dipertahankan sampai menjadi gerakan politik, bahkan sampai berhasil membentuk atau mendirikan sebuah kerajaan.[1] Pada mulanya tarekat ini bersifat lokal namun lama-lama menjadi gerakan keagamaan yang sangat berpengaruh di Persia dan sekitarnya.[2]
Dibanding dengan masa Turki Usmani, masa pemerintah Safawi tidak terlalu lama, sekitar dua setengah abad kurang sedikit, yakni sejak pemerintah Ismail pada 1501 M hingga akhir pemerintah Abbas III pada 1736 M. Kerajaan ini mengalami puncak kejayaan pada masa pemerintah Abbas I (1588 – 1628 M). Namun pada akhirnya, kemajuan yang pernah dicapai oleh Abbas I segera menurun. Beberapa wilayah lepas dari kekuasaan sebab raja-raja setelah Abbas I lemah semua.
II.      PERMASALAHAN
Permasalahan-permasalahan yang kami akan kami angkat pada pokok bahasan adalah sebagai berikut
1.      Proses pembentukan dinasti Safawi
2.      Penguasa dinasti Safawi
3.      Peradaban-peradaban Islam kerajaan safawi
4.      Perkembangan-perkembangan yang telah di capai pada masa kerajaan safawi
5.      Akhir pemerintah dinasti Safawi
6.      Faktor-faktor kemunduran dinasti Safawi
III.   PEMBAHASAN
A.    Asal Mula Pendiri Kerajaan Safawi
Ketika kerajaan Usman sudah mencapai puncak kejayaannya kerajaan Safawi baru berdiri. Kerajaan ini berkembang dengan cepat. Dalam perkembangannya, kerajaan Safawi sering bentrok dengan kerajaan Turki Usmani.
Berbeda dari dua kerajaan Islam lainnya (Usmani dan Mughol), kerajaan Safawi menyatakan Syi’ah sebagai mazhab negara. Karena itu kerajaan ini dapat dianggap sebagai peletak pertama dasar terbentuknya negara Iran.
Kerajaan  Safawi bermula dari kelompok tarekat yang berubah menjadi gerakan politik yang dipimpin oleh Saifuddin (1252 – 1332 M) di Ardabil, sebuah kota di Azarbaijin.[3] Pada mulanya tarekat ini bersifat lokal, namun lama-lama menjadi gerakan keagamaan yang sangat berpengaruh di Persia dan sekitarnya.[4] Tarekat ini bertujuan untuk memerangi orang-orang yang ingkar dan kelompok ahli bid’ah. Karena itu, tarekat bersikap fanatik dan menentang kelompok-kelompok selain Syi’ah. Untuk itu pula, gerakan ini merasa perlu memasuki wilayah politik.[5]
Menurut Sayid Amir Ali, kata Safawi berasal dari kata Shafi, suatu gelar bagi nenek moyang bagi raja-raja Safawi: Safiuddin/Shafi al-Din Ishak al-Ardabily, pendiri dan pemimpin tarekat Shafawiyah. Amir Ali beralasan, bahwa para musafir, pedagang dan penulis Eropa selalu menyebutkan raja-raja Safawi dengan gelar Shafi Agung. Sedang menurut P.M. Holt dan kawan-kawan Safawi berasal dari kata Shafi, yaitu bagian dari nama Shafi al-Din Ishak al-Ardabily.[6]
Kerajaan Safawi berdiri secara resmi di Persia pada 1501 M, Syah Ismail memproklamasikan dirinya sebagai raja di Tabriz. Bagian sejarah yang penting ini tidak berdiri sendiri. Peristiwanya berkaitan dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya dalam kerajaan Safawi. Selama masa itu Safawi tumbuh laut laun, tetapi menuju zaman yang penuh dengan sejarah yang sangat penting.[7]
Shafi al-Din berasal dari keturunan orang yang berada dan memilih Sufi sebagai jalan hidupnya. Ia keturunan dari imam Syi’ah yang keenam, Musa al-Kazhim. Gurunya bernama Syekh Taj al-Din Ibrahim Zuhaidi (1216 – 1301 M)[8] yang dikenal dengan julukan Zahid al-Gilani. Karena prestasi dan ketekunannya, Safi al-Din diambil mantu oleh gurunya dan setelah gurunya wafat ia menggantikan kedudukan gurunya sebagai guru tarekat. Beliau dikenal sebagai cuti yang besar dan dianggap keramat oleh para pengikutnya. Di bawah pimpinannya, tarekat ini berkembang menjadi gerakan keagamaan yang berpengaruh di Persia, Suriah dan Anatolia dan kemudian menjadi gerakan politik seperti halnya gerakan tarekat Sanusiah di Afrika Utara, tarekat Mahdiyah di Sudan dan tarekat Muridiyah serta tarekat Naksyabandiah di Rusia. Jadi kerajaan Safawi adalah jelmaan dari tarekat Safawiyah yang diusahakan oleh Ismail Safawi dan para pendahulunya.[9]
Ajaran agama yang dipegang secara fanatik biasanya kerap kali menimbulkan keinginan di kalangan penganut ajaran itu untuk berkuasa. Oleh karena selang beberapa lama murid-murid tarekat Safawiyah berubah menjadi tentara yang teratur, fanatik dalam kepercayaan dan menentang setiap orang yang bermazhab selain Syi’ah.[10]
Mengenai asal-usul Syekh Safiuddin ada dua pendapat. Pertama, ia adalah keturunan Musa al-Kazim (imam ke-7 Syi’ah Dua Belas), yang berarti keturunan Rasulullah SAW dari Fatimah. Kedua, ia adalah keturunan penduduk asli Iran dari Kurdistan dan seorang Sunni mazhab Syafi’i, kemudian penggantinya yang kedua berubah menjadi penganut Syi’ah.[11]
Gerakan Safawi berubah bentuk menjadi gerakan politik pada masa pimpinan Junaid bin Ibrahim (1477 – 1460) yang ingin membentuk pemerintah sendiri. Saat itu di Persia ada dua dinasti bangsa Turki yang berkuasa, yaitu dinasti Kara Koyunlu (1375 – 1468) yang dikenal dengan Black Sheep (Domba Hitam) yang beraliran Syi’ah serta berkuasa di bagian Timur, dan dinasti Ak Koyunlu yang dikenal dengan white sheep (Domba Putih) yang beraliran Sunni yang berkuasa di bagian Barat.
Kegiatan politik Safawiyah yang mendapat tekanan dari dinasti Kara Koyunlu memaksa Junaid meninggalkan Ardabil dan minta suaka politik kepada raja Dinasti yang bernama Uzun Hasan (1453 – 1477 M). Persahabatan keduanya menjadi akrab setelah Uzun Hasan mengawinkan adik perempuannya dengan Junaid. Sebelum cita-citanya tercapai Junaid digantikan putranya Haidar (1476 M). Ia memberikan atribut kepada para pengikutnya berupa serban merah yang bersumber dua belas yang disebut Qizilbash (Baret Merah). Perjuangan yang dicita-citakan Junaid dan Haidar berhasil pada masa pimpinan Isma’il Safawi putra Haidar. Selama 5 tahun (1494 – 1499 M) Ismail dan para pengikutnya menghimpun kekuatan yang besar di Jilan untuk menaklukkan Ak Koyunlu yang telah berhasil mengalahkan Kara Koyunlu ketika bersekutu dengan kakeknya Junaid. Akhirnya Ismail berhasil menaklukkan Syirwan dan berhasil memasuki Tabriz ibu kota Dinasti Ak Koyunlu.
Diantara sultan-sultan besar di kerajaan Safawi, selain dari Syah Ismail V (1501 – 1524 M) adalah Syah Tahmasp I (1524 – 1567 M) dan Syah Abbas (1585 – 1628 M), raja yang dianggap berjasa membawa kerajaan Safawi mencapai puncak kejayaan. Setelah syah Abbas, tidak ada lagi raja-raja safawi  yang kuat, sehingga kerajaan menjadi lemah, dan akhirnya dapat dijatuhkan oleh Nadir Syah (1736 – 1747 M), kepala salah satu suku bangsa Turki yang terdapat di Persia.
B.     Pemimpin-Pemimpin Kerajaan Safawi
Pada saat kerajaan Safawi mulai berdiri sampai mengalami kejayaan dan akhirnya mengalami kemunduran dikuasai oleh beberapa raja dengan susunan:
Penguasa Dinasti Safawi
No
Nama
Tahun Berkuasa
1.       
Syah Ismail I
1501 – 1524
2.       
Syah Tahmasp
1524 – 1576
3.       
Syah Ismail II
1576 – 1578
4.       
Muhammad Khudabanda
1578 – 1588
5.       
Syah Abbas I
1588 – 1629
6.       
Safi I
1629 – 1642
7.       
Syah Abbas II
1642 – 1666
8.       
Sulaiman
1666 – 1694
9.       
Husain I
1694 – 1722
10.   
Syah Tahmasp II
1722 – 1732
11.   
Syah Abbas III
1732
12.   
Nadirsyah Atsar
1736
13.   
Adil
1747
14.   
Rukh
1748
15.   
Sulaiman II
1749
16.   
Ismail III
1750
17.   
Husain II
1753
18.   
Muhammad
1786

C.    Abbas I (1588-1628) dan Masa  Kejayaan Kerajaan  Safawi
Pada tahun 1602 m, disaat Turki Usmani berada dibawah sultan Muhammad III, pasukan Abbas I menyerang dan berhasil menguasai Tabitz, Sirwan dan Baghdad, dan pada tahun 1605-1606 M kota Nakhchifan, Erivan Ganga dan Thifis dapat dikuasai dan selanjutnya tahun 1622 M pasukan Abbas I berhasil merebut kepulauan Hurmuz dan mengubah pelabuhan Gumum menjadi pelabuhan Bandar Abbas.
Masa kekuasaan Abbas I (yang kemudian diberi gelar dengan Abbas Syah yang agung) merupakan puncak kejayaan kerajaan safawiyah secara politik, ia mampu meredam berbagai gejolak di dalam negeri dan menciptakan stabilitas negara. Beberapa hal yang dilakukan oleh Abbas I.
1.      Melakukan persekutuan dengan orang-orang Kristen, dengan Inggris untuk menaklukkan Usmani, mendorong pedagang bangsa Belanda dan Inggris di bandar Abbas juga menjalin hubungan diplomatik dengan bangsa Eropa.[12]
2.      Merubah paham rakyat Iran dari sunni menjadi syi’i
3.      Anehnya, Abbas I begitu juga beberapa raja yang lain bersifat bengis terhadap anak-anaknya, sendiri karena khawatir akan merebut kekuasaan dari tangannya.
4.      Kegiatan pembangunan fisik sangat menonjol
Para penguasa Safawi menciptakan sentralisasi kekuatan militer dan administrasi negara serta menciptakan perangkat keagamaan yang akan mendukung kewenangan sah dan menghancurkan elit lokal. Mula-mula Syah Ismail I mengusahakan birokrasi administrasi negara dan meningkatkan kekuasaan pejabat sentral, Persi berhadapan dengan elit militer Turki, pemerintahan diorganisasikan dibawah kekuasaan wakil yang juga merupakan panglima tentara sekaligus merupakan pemimpin agama (imam). Administrasi sipil dipimpin oleh seorang wazir para perwira militer amir diberi hadiah tanah yang hasilnya sebagian diserahkan ke pemerintah pusat dan sebagian lain untuk membiayai tentara.[13]
Untuk mendukung program penguatan eksistensi negara dari otoritas rezimnya, safawiyah melakukan upaya pemantapan keagamaan rezim tersebut telah memperoleh kekuasaan melalui sebuah doktrin keagamaan, beberapa ajaran keagamaan safawiyah yang bernuansa mestianistik mula-mula disampaikan kepada para qizilbasy.
Untuk memperkokoh otoritasnya tersebut, safawiyah berusaha memantapkan syisme di Iran, syiah dijadikan sebagai mazhab resmi negara ini dilakukan guan memperluas dukungan dan mengkonsolidasikan otoritas para syah, itsna syariah dirumuskan dalam bentuk syi’isme yang lebih berkembang untuk memperkuat dakwah syi’isme di Iran, Ismail I mendatangkan beberapa ulama syiah itsna syariah dari Syria, Bahrain, Arabia Utara dan Irak Ali Karakhi (1465-153) mendirikan madrasah syiah yang pertama di Iran.[14]
Perkembangan-perkembangan yang dicapai kerajaan safawi, perkembangan yang dicapai safawi tidak hanya pada bidang politik, agama, dibidang lain pun kerajaan itu juga banyak mengalami kemajuan antara lain:
1.      Bidang Ekonomi
a.    Abbas I mengarahkan produksi sutra dan memasarkan hasilnya melalui pedagang-pedagang ke Ishfar dan menjadikan mereka perantara antara syah dan pelanggan asing
b.    Abbas I membangun pabrik untuk memproduksi barang-barang mewah baik untuk keperluan sendiri, maupun untuk dijual dalam perdagangan internasional.
Kesempatan pertama bangsa Iran untuk memasuki perdagangan internasional secara langsung berasal dari inisiatif bangsa Inggris. Orang Inggris yang pertama kali datang ke  Iran dan kemudian bekerja sama dengan Abbas I adalah Anthony Sherley dan Robert Sherley, pengembara yang tiba di Iran pada tahun 1598, pada tahun 1616 The English East India Company (EEIC) memperoleh hak untuk berdagang secara bebas di Iran sebagai imbalannya bangsa Inggris membantu Abbas I untuk mengusir Portugis dari pelabuhan teluk Persi di Hurmuz dan membangun Bandar Abbas sebagai pelabuhan baru untuk perdagangan jalur India Iran.[15]
c.    Disamping sektor perdagangan, kerajaan Safawi juga mengalami kemajuan si sektor pertautan terutama di daerah bulan sabit subur (fertile crescent)
2.      Bidang ilmu pengetahuan
Dalam sejarah Islam bangsa Persia dikenal sebagai bangsa yang mempunyai peradaban tinggi, para ilmuwan yang hidup pada masa itu.
a.    Baha al-Dien al Anuh (generalis ilmu pengetahuan)
b.     Sadr al-dien al Syiria (filosof)
c.    Muhammad Baqir bin Muhammad Damad (filusuf, ahli sejarah, teolog, yang pernah mengadakan observasi atas kehidupan lebah)
d.   Muhammad Baqir bin Muhammad Damad dan Sadr al-Dien al-Syirazi berhasil merumuskan ajaran yang memadukan sofisme agnostik dengan filsafat yang dapat menjabarkan ajaran Syiah Itsna Asyariah.
3.      Bidang seni
a.       Pada tahun 1510 sekolah seni lukis Timuriyah dipindahkan dari Herat ke Tibri, Bahzad pelukis terbesar diangkat menjadi direktur perpustakaan raja dan pembimbing workshop yang menghasilkan manuskrip
b.      Syah Tahmasp juga dikenal sebagai seorang seniman besar yang diantaranya menghasilkan pakaian jubah, hiasan dinding, dan sejumlah karya seni logam dan keramik
Dari sekolah lukis ini terbitlah sebuah edisi syah nameh (buku tentang raja-raja) yang memuat lebih dari 250 lukisan dan merupakan karya besar seni manuskrip Iran.
c.       Syah Ababs I juga menciptakan beberapa jenis lukisan seperti peperangan, pemandangan, dan upacara kerajaan.[16]
4.      Bidang fisik / pembangunan
a.    Berhasil membangun ibukota baru yaitu Isfahan, merupakan kota yang sangat penting bagi perkembangan politik dan ekonomi Iran, dan sekaligus sebagai simbol legitimasi Safawiah
b.    Tahun 1603 mulai dibangun masjid kerajaan dibagian timur dan selesai tahun 1618
c.    Tahun 1611 mulai dibangun masjid kerajaan dibagian selatan dan selesai tahun 1629
d.   Pada sisi bagian barat dibangun istana dan Ali Qapu yang merupakan gedung pusat pemerintahan
e.    Bagian utara berdiri bangunan monumental yang menjadi pintu gerbang bagi bazar kerajaan dan sejumlah pertokoan, tempat pemandian, caravan series, masjid dan sejumlah perguruan
f.     Di alun-alun istana dihubungkan oleh sebuah jalan raya sepanjang 2,5 mil, di salah satu sisi jalan ini dibangun taman yang luas, tempat tinggal para harem syah dan tempat tinggal para pegawai dan para dua besar asing.
D.    Akhir Pemerintah Dinasti Safawi
Bentuk-bentuk institusi kenegaraan, kesukuan dan institusi keagamaan Safawi yang diciptakan oleh Abbas I telah mengalami perubahan secara mencolok pada akhir adab ke tujuh belas dan awam abad kedelapan belas. Jika kecenderungan abad enam belas dan awal abad tujuh belas memperkuat kekuasaan negara dan pada pembentukan keagamaan kalangan Syi’i, maka pada periode berikutnya mengantarkan pada sebuah kemunduran yang tajam bagi imperium Safawi, kehancurannya yang parah terjadi pada pasukan kesukuan dan penglepasan Islam Syi’ah dari kekuasaan terhadap negara.
Kemunduran pemerintah pusat telah berlangsung sepeninggal Abbas I. Untuk menghindari pertempuran sengit antara pihak-pihak yang berpeluang menduduki tahta kekuasaan, maka beberapa generasi para sultan Safawi yang sedang berkuasa mengikat diri pada lingkungan istana, dan mereka dinobatkan dengan pendidikan rendah dan sedikit pengalaman dalam kehidupan bersama khalayak. Setelah Abbas I tidak ada seorang pun yang memiliki visi atau kecakapan sebagaimana Abbas. Lebih-lebih setelah perjanjian dengan pihak Usmani pada tahun 1639, pasukan militer Safawi terbengkalai dan terpecah menjadi sejumlah resimen kecil dan lemah. Pada akhir abad tujuh belas, pasukan militer Safawi tidak lagi sebagai sebuah mesin militer yang berguna. Administrasi pusat juga mengalami perpecahan, dan beberapa prosedur penerbitan pajak dan distribusi pendapatan negara menjadi tidak terkendalikan. Pada abad delapan belas Iran telah dilanda kondisi anarkis. Pada tahun 1722 M, Ghalzai Afghan mengambil alih kekuasaan atas Isfahan, ibu kota Safawi.[17]
Setelah dipimpin oleh Abbas I kerajaan Safawi berturut-turut diperintahkan oleh Safi Mirza (1628 – 1642 M), Abbas II (1642 – 1667 M), Sulaiman (1667 – 1694 M), Husain (1694 – 1722 M), Tahmasp II (1722 – 1732 M) dan Abbas II (1733 – 1736 M). Pada masa raja-raja tersebut kondisi kerajaan Safawi tidak menunjukkan grafik naik dan berkembang, justru memperlihatkan kemunduran yang akhirnya membawa pada kehancuran.[18] Beberapa wilayah lepas dari kekuasaan kerajaan Safawi.
Safi Mirza cucu Abbas I adalah seorang pemimpin yang lemah. Ia sangat kejam terhadap pembesar-pembesar kerajaan karena sifat pencemburunya. Kemajuan yang pernah dicapai oleh Abbas I segera menurun. Kota lepas dari kekuasaan kerajaan Safawi, diduduki oleh kerajaan Mughol yang ketika itu diperintah oleh sultan Syah Jehan, sementara Baghdad direbut oleh kerajaan Usmani.
Abbas II adalah raja yang suka minum-minuman keras sehingga ia jatuh sakit dan meninggal. Meskipun demikian, dengan bantuan wazir-wazirnya, pada masa kota Qandahar dapat direbut kembali, sebagaimana Abbas II, Sulaiman juga seorang pemabuk, pecandu Narkoba dan menyenangi kehidupan malam, sewenang-wenang dan kejam.[19] Ia bertindak kejam terhadap para pembesar yang dicurigainya, akibatnya rakyat bersikap masa bodoh terhadap pemerintah. Selain itu dia juga melakukan penindasan dan pemerasan terhadap ulama Sunni dan memaksakan ajaran Syi’ah kepada mereka.[20] Sulaiman diganti oleh Shah Husien yang alim. Ia memberi kekuasaan yang besar kepada para ulama Syi’ah yang sering memaksakan pendapatnya terhadap penganut aliran Sunni. Sikap ini membangkitkan kemarahan golongan Sunni Afghanistan, sehingga mereka berontak dan berhasil mengakhiri kekuasaan dinasti Safawi.[21]
Pemberontakan bangsa Afghan terjadi pertama kali pada tahun 1709 M dibawah pimpinan Mir Vays yang berhasil merebut wilayah Qandahar. Mir Vays diganti oleh Mir mahmud berhasil mempersatukan pasukannya dengan pasukan Ardabil. Dengan kekuatan gabungan ini, Mir mahmud berusaha memperluas wilayah kekuasaannya dengan merebut negeri-negeri Afghan dari kekuasaan Safawi.[22]
Karena desakan dan ancaman Mir Mahmud, Shah Husein mengakui kekuasaan Mir Mahmud dan mengangkatnya sebagai gubernur di Qandahar dengan gelar Husein Quli Khan (budak Husein). Pada tahun 1721 M, ia dapat merebut Kirman. Tak lama kemudian Mir Mahmud beserta pasukannya menyerang Isfahan, mengepungnya selama enam bulan dan memaksa Shah Husein untuk menyerah tanpa syarat. Pada akhirnya tanggal 12 Oktober 1722 M Shah Husein menyerah dan tanggal 25 Oktober Mir Mahmud memasuki kota Istahan dengan penuh kemenangan.[23]
Setelah itu Safawi diserang oleh Turki Usmani dan Rusia. Wilayah Armenia dan beberapa wilayah Azerbaijan direbut oleh Turki Usmani dan Rusia. Sedangkan beberapa wilayah propinsi Laut Kaspia di Jilan, Mazandaran dan Asterabad direbut oleh Rusia.[24] Nadir, seorang penguasa rezim Ashtariyah dari keturunan Chaghatay mengambil alih kekuasaan. Nadir mengalahkan pertahanan Safawi yang terakhir. Upaya yang ditempuhnya tidak hanya menyerupai sebuah penjelajahan pasukan Bonaparte tetapi sekaligus juga berusaha menghubungkan tradisi pertahanan bangsa Turki di perbatasan Iran Timur terhadap pemerintah pusat Iran dan etnik pemerintah Persia.
Dalam masa pemerintahannya yang singkat, Nadir Syah berusaha memulihkan kembali teritorial negara Iran dan juga berusaha memprakarsai suatu pemanduan antara Islam Sunni dan Syi’i, dalam rangka untuk lebih mengefektifkan integrasi masyarakat Afghan dan beberapa masyarakat kesukuan lainnya ke dalam rezim dan untuk melegitimasi permusuhan dengan Usmani.[25] Ia mengusulkan untuk menjadikan Syi’isme menjadi madzhab hukum yang kelima, yang dinamakan mazhab hukum Ja’fariyah, yang sama persis kedudukannya dengan empat mazhab hukum Sunni.
Nadir Syah digantikan oleh Karim Khan, pimpinan koalisi kelompok kesukuan Zand di Iran Barat, yang mana rezim ini berlangsung secara efektif dari 1750 sampai 1779. Pada ujung-ujungnya rezim ini memberikan jalan bagi kelompok Qajar, yang semula merupakan tokoh-tokoh Turki yang mengabdi pada Safawi, dan kepada beberapa gubernur lokal di Mazandaran dan Astarabad. Pada tahun 1779 kelompok Qajar ini mengalahkan Zand dan mendirikan sebuah dinasti yang berlangsung hingga tahun 1924 M.
Kehancuran negara Iran pada abad delapan belas menimbulkan beberapa implikasi terhadap sejumlah hubungan antara rezim negara dan elite keagamaan. Beberapa langkah awal yang ditempuh bersamaan dengan pengukuhan konsep millenarian Syi’i bahwasanya imam tersembunyi pastilah akan menegakkan sebuah  pemerintah pribadinya kelak pada akhir zaman. Tanpa perlawanan secara langsung terhadap otoritas negara, ulama mengundurkan diri dari keterlibatan dalam beberapa urusan yang bersifat umum. Selain menjadikan Syi’isme sebagai keyakinan resmi negara, pada abad tujuh belas motivasi keagamaan mengenai perilaku duniawi telah digantikan oleh peremehan keterlibatan dalam urusan duniawi untuk kepentingan kesalehan pribadi.[26]
Selain hal tersebut di atas, pada abad tujuh belas beberapa kalangan ulama Syi’ah tidak lagi mau mengakui bahwa Safawi telah mewakili pemerintahan sang Imam tersembunyi. Pertama, ulama mulai meragukan otoritas Syah yang berlangsung secara turun temurun tersebut sebagai penanggung jawab pertama atas ajaran Islam Syi’ah. Kedudukan Safawi menjadi sedemikian lemah karena mereka tidak mampu memperlihatkan keabsahannya melalui wasiat pengangkatan. Kedua selaras dengan keyakinan Syi’ah “Dua Belas”, bahkan semenjak masa “Keghaiban Besar” tahun 941 M sang Imam tersembunyi tidak terwakili di muka bumi oleh ulama. Selanjutnya ulama menegaskan bahwasanya mujtahid (kalangan ulama yang cakap untuk menyampaikan berbagai keputusan hukum secara mandiri) menduduki otoritas keagamaan yang tertinggi. Beberapa ulama mazhab mengelaborasi lebih jauh tentang sifat-sifat otoritas tersebut. Mazhab Ushuli memberikan sebuah kewenangan yang sangat luas kepada kalangan mujtahid karena mazhab tersebut memandang mereka sebagai otoritas yang didasarkan pada beberapa faktor yang kompleks seperti pengetahuan pemahaman Al-Qur'an, pengetahuan tentang Sunni Ali, dan pengetahuan terhadap kesepakatan umat. Madzhab Akhbari secara ketat membatasi otoritas individual ulama dengan menekan keharusan terikat secara literal kepada ketentuan sunnah secara harfiah yang disampaikan oleh Ali dan para Imam.[27]
Dari invasi Mongol sampai kepada kehancuran imperium Safawi, sejarah Iran dengan kontinuitas dan transformasi pola-pola dasar negara, agama dan kemasyarakatan yang diwarisi dari periode Saljuk. Dari periode Saljuk, rezim Mongol, Timuriyah dan Safawiyah mewarisi sebuah tradisi pemerintahan monarkhi yang memusat dan berusaha memperkokoh kekuasaan pemerintah pusat dengan menggeser kedudukan para penakluk dari kalangan kesukuan dan Uymaq kepada pasukan militer budak dan administrasi pemerintahan yang semi pusat. Dengan melemahkan negara di abad delapan belas, tokoh-tokoh Uymaq kembali memecah belah Iran sehingga berkuasalah sejumlah dinasti baru.
Kehancuran rezim Iran ini juga disebabkan sejumlah perubahan yang luar biasa dalam hal hubungan negara dan agama. Pada periode Mongol dan Timuriyah, beberapa gerakan Sufi di perkampungan mengorganisir perlawanan umum terhadap kekejaman rezim asing. Islam kembali berperan dalam menyatukan masyarakat yang tengah di dalam perpecahan menjadi gerakan moral dan politik yang lebih besar, sebagaimana yang pernah dijalankan oleh Islam di masa Nabi. Safawiyah semula merupakan sebuah gerakan, tetapi setelah berkuasa, rezim ini justru menindas bentuk-bentuk millenarian Islam Sufi seraya cenderung kepada pembentukan kepada pembentukan lembaga ulama negara.[28] V menjadikan Syi’isme (Dua Belas) sebagai agama resmi bagi pemerintah Iran, dan mengeliminir pengikut Sufi mereka sebagaimana yang dilakukan terhadap ulama Sunni. Syi’isme periode Safawi menyerap ide-ide filsafat dan ide-ide Gnostis dan menyerap praktik pemujaan terhadap wali yang ternama. Iran benar-benar sangat unik di antara masyarakat muslim lainnya dalam hal tingkat kekuasaan negara dalam mengendalikan kegiatan keagamaan dan dalam hal keluasannya dalam menyerap seluruh kecenderungan yang tengah tumbuh di dalam spektrum muslim.
Krisis abad delapan belas mengantarkan kepada berakhirnya sejarah Iran pra modern. Hampir di seluruh wilayah Muslim, periode pra modern yang berakhir dengan intervensi, penaklukan bangsa Eropa, dan dengan pembentukan beberapa rezim kolonial, maka dalam hal ini konsolidasi ekonomi dan pengaruh politik bangsa Eropa telah didahului dengan kehancuran imperium Safawi dan dengan liberalisasi ulama. Demikianlah, rezim Safawi telah meninggalkan warisan kepada Iran modern berupa tradisi Persia perihal sistem kerajaan yang agung, yakni sebuah rezim yang di bangun berdasarkan kekuatan Uymaq atau unsur-unsur kesukuan yang utama, dan mewariskan sebuah kewenangan keagamaan Syi’ah yang kohesif, monolitik dan mandiri.
E.     Faktor-Faktor Kemunduran Kerajaan Safawi
Ada beberapa faktor yang mempercepat kehancuran kerajaan Safawi. Faktor tersebut antara lain sebagai berikut:
Pertama, ketegangan dan konflik dengan Turki Usmani yang keberadaannya  jauh lebih besar dan kuat daripada Safawi. Ketegangan dan konflik ini lebih disebabkan oleh rivalitas politik antara keduanya sejak awal. Disamping itu perbedaan antara aliran Syi’ah dan aliran Sunni yang terjadi diantara keduanya menambah kuatnya persaingan yang melahirkan ketegangan bahkan konflik.[29]
Kedua, keadaan para sultan yang lemah dan tidak efektif memimpin. Cucu Abbas, Safi Mirza, ia disamping lemah, juga tidak bersikap bijak terhadap para pembesar kerajaan. Abbas II adalah sultan yang gemar minum minuman keras hingga membuatnya jatuh sakit kemudian meninggal dunia. Demikian juga sultan Sulaiman yang pemabuk, ia bersikap kejam terhadap para pembesar, sehingga rakyat acuh terhadapnya. Penggantinya, Shah Husein memberi otoritas yang berlebihan kepada para ulama Syi’ah sehingga mereka memaksakan fatwanya kepada penganut Sunni, sehingga hal ini menimbulkan kemarahan Sunni Afghanistan yang berakhir dengan pemberontakan yang mengakibatkan Safawi jatuh di tangan penguasa Afghanistan Mir Mahmud pada 1722 M.
Ketiga, kelemahan para sultan di atas ditambah dengan melemahnya semangat pasukan budak-budak yang direkrut oleh Abbas I, membuat Safawi semakin mundur. Pasukan ini berbeda dengan pasukan Qizilbash yang memang dipersiapkan secara profesional, sedangkan pasukan budak-budak tidaklah demikian. Mereka tidak digembleng rohani dan mental juangnya sebagaimana Qizilbash. Sementara generasi Qizilbash yang baru pun tidak memiliki semangat juang yang tinggi seperti pendahulunya.
Keempat, dekadensi mental khususnya di lingkungan istana juga menambah kemerosotan pamor Safawi di mata rakyat. Sultan Sulaiman yang pemabuk itu ternyata juga menyenangi kehidupan malam beserta harem-haremnya. Pernah selama tujuh tahun ia tidak menyempatkan diri untuk mengurus pemerintahannya, dan begitu pula sultan Husein.[30]
IV.             KESIMPULAN
Dari keterangan yang telah kami jabarkan pada sub bab pembahasan tersebut, dapat kami ambil kesimpulan, sebagai berikut:
1.      Pendiri kerajaan safawi bernama Syeikh Ishaq Syafrudin dengan mendirikan tarekat safawiyah (1252-1334) kemudian dilanjutkan Junaed (1447-1460 M), Heidar, Ismail, Abbas
2.      Kerajaan Safawi telah berhasil merebut banyak wilayah lain yaitu Sircasia, Kaspia, dan Hazandaran, Gurgan dan Yazd, Diyar, Bakr Baghdad, dan daerah barat daya Persia.
3.      Perkembangan-perkembangan yang telah dicpai kerajaan Safawi antara lain; dibidang ekonomi, ilmu pengetahuan. Seni dan bangunan. Puncak keemasan masa kerajaan Safawi pada masa pemerintahan Abbas I.
4.      Kerajaan  Safawi merupakan salah satu dari tiga kerajaan besar pada abad 17 hingga abad 18 yang mulanya adalah kelompok tarekat yang dipimpin oleh Safiuddin (1252–1332 M) di Ardabil. Kerajaan Safawi mengalami kemunduran karena disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:
a.       Konflik berkepanjangan dengan kerajaan Usmani
b.      Keadaan para sultan yang lemah dan tidak efektif dalam memimpin kerajaan
c.       Pasukan budak-budak yang dibentuk oleh Abbas I tidak memiliki semangat perang yang tinggi seperti Qizilbash.
d.      Dekadensi moral yang melanda sebagian para pemimpin kerajaan Safawi.
V.  PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami sampaikan, apabila ada kekurangam dan kekhilafan dalam segi penulisan atau dalam segi mempresentasikan makalah ini kami mohon maaf, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan.



DAFTAR PUSTAKA
Ensiklopedia, Islam 4, Jakarta: Ichtisar Baru Van Hoeve
Esposito, John L.,  (Ed.), The Oxford Encyclopedia of The Modern Islamic World, Oxford, New York : University Press, 1995
Hamka, Sejarah Umat Islam III, Jakarta: Bulan Bintang, 1981
Holt, P.M., dkk (ed.), The Cambridge History of Islam, Vol I A, London : Cambridge University Press, 1970
Lapidus, Ira M., A History of Islamic Societies, London : Cambridge University Press, 1988
---------------------., Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999
Mansur, Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah, Yogyakarta: Global Pustaka utama, 2004
Maryam, Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik hingga Masa Modern, Trata Kencana, 1992
Mubarok, Jaih, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004
Nurhakim, M., Sejarah dan Peradaban Islam, Yogyakarta: UMM Press, 2004
Thohir, Ajid, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1976
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Rajawali Press, 1995




[1] John L. Esposito,  (Ed.), The Oxford Encyclopedia of The Modern Islamic World, Oxford (New York : University Press, 1995), hlm.457.
[2] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1995), hlm.138
[3] M. Nurhakim, Sejarah dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: UMM Press, 2004), hlm.141
[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1995), hlm.138
[5] M. Nurhakim, Op.cit., hlm.167
[6] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hlm.60
[7] Ibid, hlm.167
[8] Ensiklopedia, Islam 4, (Jakarta: Ichtisar Baru Van Hoeve), hlm.193.
[9] Ibid, hlm.194
[10] Hamka, Sejarah Umat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hlm.167
[11] Ensiklopedia Islam 4, Op.cit., hlm.194.,
[12] Badri Yatim, op.cit, hlm. 143
[13] Maryam, Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik hingga Masa Modern, (Trata Kencana, 1992), hlm. 338
[14] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999),  hlm. 295
[15] Ibid,  hlm. 291
[16] Ibid, hlm. 292-294
[17] Ira M. Lapidus, op.cit, hlm.462.
[18] Badri Yatim, op.cit., hlm.156
[19] Mansur, Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah, (Yogyakarta: Global Pustaka utama, 2004), hlm.65
[20] Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004), hlm.131.
[21] Hamka, Sejarah Umat Islam III, (Jakarta: Bulan Bintang, 1981), hlm.71-73
[22] Badri Yatim, Op.cit., hlm.157
[23] P.M. Holt, dkk (ed.), The Cambridge History of Islam, Vol I A, (London : Cambridge University Press, 1970), hlm.426
[24] Ira M. Lapidus, A History of Islamic Societies, (London : Cambridge University Press, 1988), hlm.299
[25] Ira M. Lapidus, op.cit, hlm.463.
[26] Ibid, hlm.464
[27] Ibid, hlm.465
[28] Ibid, hlm.466
[29] Badri Yatim, Op.cit., hlm.158
[30] M, Nurhakim, op.cit.,hlm.144-145.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar